<$BlogRSDURL$>


tiga belas bukan kesialan. tiga belas adalah perjalanan panjang menuju seratus. atau seribu. bahkan sejuta. dan ini adalah perjalanan yang belum usai. setidaknya untuk saat ini.

ARCHIVES
June 2005


Teman Teman


Sapa Teman


Name
Email
URI
Msg

tiga belas
Saturday, June 11, 2005
  her graduation i want to make this note, just a symbol to tribute my truly 'Luv' : Ophelia Amorada.
she just gratuated, today (june 11, 2005)
well, no 'student' status, anymore, dude...

congrats.

enjoy ur real life, now. coz...almost 7 years lived in d campus, it was a dream. juz a beautiful dream.

i'm waiting u in d future. (it's wandi's words...gosh...i stated his name, again???) 

Sunday, June 05, 2005
  who's write whose epitaph Stones taught me to fly
Love taught me to cry
Life taught me to die 

  jalan pulang karena laut
sungai lupa
jalan pulang

.... 

  one night like this... One night like this, u held me in your arms
I kissed u so many times under the infinite sky.
…what does it matter that I love couldn’t keep him
the night is full so stars and he is not with me
that’s all.

Far away, someone sings.
Far away, My soul is lost without him
As if to bring him near, my eyes search for him.
My heart searches for him and he is not with me…

The same night that whitens the same tree
I want back to the previous…
And I know, I will not be back for free
But, whatever the price…I will pay it
Juz for take my lil time with u…

In dis corner…when the time was coming…
I let it go! that was not the rite time
And I hope, u know, still
Nothing changes with me,
i’m still on u, eventhough u re not water in the river.

Saddest poem on April, 2005

inspired by Pablo N

for my blue—endless story! 

  “I Prefer being a dog…” by: d_sinner13

SIANG itu terik. Matahari Jakarta memang tak pernah bersahabat. Sama dengan tak ramahnya lalu lintas di jalanan kota ini. Sudah hampir tiga puluh menit saya terjebak dalam kemacetan di jalan Dewi Sartika. Mobil yang saya tumpangi merayap pelan tak sampai sepenggalah, pun berhenti lagi.
“Sabar…ini terapi yang baik untuk melatih kesabaran,” ujar teman yang duduk di sebelah kanan saya. Tangannya mencengkram erat roda kemudi. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Mengawasi angkutan umum yang berhasil menyerobot jalannya, ataupun pengendara sepeda motor yang menyalip dan berkelit di lahan sempit antara kendaraan beroda empat.
Entah bagaimana awalnya, sopir angkutan umum di sebelah kanan depan berteriak lantang ke arah kendaraan pribadi yang ada di depan kami. “Weiii…anjing, buta lo ya! Main serobot aja!” teriaknya. Tak kalah sengit, pengendara sedan hitam di depan kami pun membalas. “ Lo yang anjing. Ngga tau aturan ya!” ujarnya sambil menurunkan kaca jendela. Supir angkutan rupanya panas. Ia turun dari kendaraannya, hendak menghampiri si pengendara mobil pribadi. Namun, niatnya urung, sebab helaan tangan sang kenek dan suara klakson yang memekakan telinga dari antrian kendaraan di belakangnya, membuat ia kembali ke bangku kemudi.
***
PEMBANGUNAN kota memang selalu meninggalkan cerita panjang yang tak berkesudahan. Sebab, membangun dan menata kota bukan sekedar mengutak-atik wilayah, bongkar pasang bangunan, menghiasnya dengan penjor kota yang gemerlap, dan papan reklame besar yang memamerkan perempuan cantik bergincu. Membangun tata kota berkaitan dengan membangun karakteristik penghuninya. Membangun peradaban bagi manusia yang mendiaminya. Terlebih lagi, membangun kemanusiaan para manusianya.
Dari sebuah tata kota, dengan jaringan jalan yang dibangun dan dirancang untuk menghubungkan satu titik ke titik lain, seperti itulah sebenarnya penghuninya sedang berupaya dibangun. Ibarat menghubungkan para jiwa yang mendiami polis (kota). Sebagaimana Aristoteles yakin bahwa polis merupakan satuan sosial yang merangkum dan menyatukan individu.
Saya masih ingat, di jalanan menuju sebuah bundaran kota ini, di mana hotel megah berdiri, dengan lampu yang berkelap-kelip memancar dari jendela-jendela tingginya, ada sebuah gardu. Gardu dengan tulisan : Disiplin Lalu Lintas Menunjukkan Disiplin Bangsa. Gardu yang makin menegaskan, bahwa kondisi jalanan (baca:lalul intas, red) menunjukkan identitas peradaban polis itu. Benarkah?
Dan inilah wajah peradaban ibu kota hari ini. Jakarta, saat panas menyengat ataupun ketika gerimis mengguyur kelam, Aristoteles harus mahfum. Teorinya tidak laku di sini. Tak ada polis yang dimaksudkan Aristoteles. Sebab, siapa yang menginginkan menunjukkan disiplin bangsa di tengah hutan rimba kendaraan bermotor? Goenawan Mohamad pun mempertanyakan hal ini. Kita di sini tak pernah tahu adakah kita punya kemauan spontan untuk menaati hukum, menghormati hak orang lain, dan merunduk kepada negeri tempat kita menautkan diri sebagai anggota. Dan, tak ada juga jawaban pasti, apakah kewajiban-kewajiban sosial telah dipenuhi oleh polisi yang berjaga di gardu tersebut.
Lihat wajah kita. Sejak pagi telah berlipat ibarat roti bakar untuk sarapan. Manyun menyikapi ruwetnya jalan yang harus ditempuh. Semakin meninggi matahari, maka suhu kepala pun semakin panas. Tak kalah panas dengan suhu politik menjelang pemilu. Ah, mungkin suhu politik malah kurang hangat dibandingkan dengan suhu emosi yang tumpah ruah di jalanan bersamaan dengan sumpah serapah. Sebab, suhu politik menjelang pemilu, hanya menghangat setiap lima tahun sekali. Bukan seperti persoalan macet yang semakin hari semakin meningkat dan membuat penduduknya tak lagi bisa memulai pagi dengan senyuman. Apalagi bersikap ramah pada orang lain.
Jalanan membuat orang menjadi tak manusia. Mungkin inilah biaya sosial (social cost) yang harus dibayar untuk sebuah pembangunan atas nama modernitas. Ketika hak menggunakan jalan berkurang kenyamanan, maka Hobbes pun akan berkata, “Tuh kan …benar. Bahwa manusia adalah homo homini lupus. Makhluk Leviatan.” Kita seperti diajak melihat realitas budaya penghuninya hari ini, kekerasan.
Inilah modernitas mundur. Ketika kekerasan menjadi bahasa sehari-hari kita. Tak hanya kekerasaan fisik, bahkan juga simbolik. Untuk menyeberang jalan, di tempat semestinya (zebra cross) saja, susahnya bukan main. Zebra cross sebetulnya ruang milik pejalan kaki, yang sewaktu-waktu "dapat dipinjam" kendaraan untuk melintas jika tidak ada pejalan kaki bermaksud menggunakannya. Bukan sebaliknya, di mana pejalan kaki yang "meminjam" untuk menyeberang jalan ketika kendaraan tidak sedang melintas. Namun, apa yang terjadi. Para pengendara tak hendak berhenti sejenak membiarkan pejalan kaki lewat Pejalan kaki harus mengalah. Seandainya diijinkan lewat pun, itu sudah dengan kenekatan dari pejalan kaki untuk melintas.
Tak heran bila Global Road Safety Partnership menyebutkan, lebih dari setengah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia terjadi di negara-negara Asia Pasifik yang memiliki 16 persen kendaraan di dunia ini. Celakanya, sebagian besar korbannya adalah para pejalan kaki.
Saya sering bertanya-tanya kemana menguapnya rasa toleransi atau ‘tepo sliro’. Dan kemudian terkejut, mana kala menyadari bahwa sistem lalu lintas dan transportasi yang dibuat pemerintah bukan hanya tak mampu menjawab persoalan, namun juga telah menciptakan sebuah krisis kehidupan berbudaya individu.
Di Indonesia—tak hanya di Jakarta—hampir tak ada sistem penyeberangan dan fasilitas publik yang manusiawi untuk handicap. Jembatan penyeberangan dengan anak tangga yang banyak tidak memungkinkan seorang handicap menggunakan fasilitas ini. Bahkan, untuk jembatan busway yang dibuat landai pun sangat tidak menjamin keselamatan handicap. Tanpa bantuan orang lain, seorang handicap akan kerepotan dan mudah tergelincir ketika menggunakannya.
Jangan katakan di sinilah pentingnya tolong menolong. Saya justru melihat, di sinilah letak ketidakadilan dan kekejaman sistem yang dibangun. Ketika membuat seorang yang tak berdaya (secara fisik) menjadi lebih tak berdaya lagi, tak memberi mereka kesempatan untuk belajar mandiri, bebas melakukan aktivitas di ruang publik tanpa perlu rikuh dengan kondisinya yang lemah secara fisik.
Dan, jangan ingatkan saya bahwa budaya kita adalah budaya tolong menolong, setidaknya untuk persoalan di jalan. Untuk menyeberang di zebra cross pun terasa sangat sulit. Tak jarang para pengendara menghentikan kendaraannya tepat di area zebra cross ketika traffic light berwarna merah. Apalagi untuk zebra cross yang dibuat jauh dari traffic light. Seorang yang kebetulan tidak menyandang cacat seperti saya pun harus menunggu bermenit-menit untuk menyeberang, berharap ada kendaraan yang memperlambat lajunya dan ‘menolong’ dengan memberi kesempatan untuk menyeberang. Itu saja, tak berharap lagi ada senyum manis, lambaian tangan, sapaan ramah ataupun wajah tak terganggu. Di jalanan Jakarta, manusia menjadi begitu beringas…
***
DI kota besar seperti DC, Virginia (VA), ataupun Atlanta, subway (kereta bawah tanah) adalah transportasi publik yang paling sering digunakan untuk aktivitas komuter dalam kota. Bus atau taxi adalah pilihan ketika kondisi sedang terjepit. Kendaraan pribadi hanya digunakan sampai tempat parkir publik yang berdekatan dengan station subway. Perjalanan selanjutnya, ditempuh dengan subway. Ada tiga pilihan kartu untuk penggunaan jasa ini. Kita bisa membeli kartu yang bisa digunakan sepanjang hari dengan membayar US $6, US $1.25 untuk satu jurusan saja, dan tiket berlangganan (mingguan atau bulanan).
Ini jelas lebih menghemat. Dengan US $6 bisa mendapatkan tiket untuk perjalanan ke semua jurusan sepanjang satu hari itu. Keluar dari station subway, umumnya orang memilih berjalan kaki ke tempat tujuannya. Station subway berada di tengah kota sehingga memudahkan semua orang menjangkau berbagai tempat dengan berjalan kaki. Harga taxi yang cukup mahal membuat berjalan kaki adalah pilihan yang murah dan menyehatkan. Hemat waktu dan biaya. Bayangkan berapa banyak biaya dan waktu yang harus anda keluarkan bila mengendarai mobil pribadi untuk keliling D.C dan VA yang dipisahkan oleh sungai Potomac ini?
Sementara itu, persoalan terbesar di Jakarta adalah volume kendaraan pribadi yang semakin meningkat, angkutan massal yang tak nyaman, kemacetan, dan ditambah lagi dengan kriminalitas. Dan, jauh di belakang sana, dampak buruk polutan atau emisi gas buangan dari kendaraan bermotor sedang mengintai jiwa warga kota.
Jumlah kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, diperkirakan bertambah sebesar 14 persen per tahunnya. Di tahun 2003, Badan Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya memperkirakan bahwa kendaraan pribadi bertambah sekitar 42000 per bulannya. Jumlah ini akan semakin meningkat setiap tahunnya. Pertambahan ini ikut memperluas pula titik-titik kemacetan dan penyebab naiknya angka pencemaran udara. Analisis kinerja mesin Bensin dan Diesel berdasarkan hasil uji emisi, Swiss contact menyebutkan ada tujuh emisi gas buangan kendaraan bermotor yang mengancam kesehatan warga kota, diantaranya adalah Karbon Monoksida (CO) dan Hidro Karbon (HC).
Pada kondisi kecepatan rendah pembakaran, bensin menjadi tidak sempurna sehingga menghasilkan lebih banyak CO yang dapat menyebabkan gangguan syaraf pusat, pingsan, dan kematian. Bahkan untuk emisi gas buang HC, selain memicu serangan asma, juga memicu terjadinya kanker.
Ke depannya, tak cukup sekedar memikirkan sistem transportasi macam apa yang harus diterapkan. Prinsip dasar pembangunan kota yang berkelanjutan harus menjadi roh dalam pembangunan sistem kota dan transportasi. Kekeliruan penerapan dan pengembangan kebijakan transportasi bisa menyebabkan kematian di dalam kota (death in the city) yang dialami oleh warga kota. Pemerintah perlu mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Membiarkannya berlarut-larut, ibarat menggali kubur di tengah kemeriahan kota. Penjor-penjor di setiap sudut kota kian semarak, namun warga kotanya tak dapat lagi menghirup udara dengan bebas, ia harus menggunakan masker kemana pun. Cemas setiap kali hendak menarik nafas, sebab jangan-jangan malaikat pencabut nyawa telah menjelma ke dalam udara yang dihirupnya.
Selanjutnya, kita pun tinggal menyongsong kematian kota itu sendiri. Indikasinya ditunjukkan dengan aksessibilitas kota yang dulunya mudah menjadi sulit dijangkau, ini berdampak pada ditutupnya pusat perdagangan.Hal ini dibuktikan dengan surutnya pertumbuhan ekonomi di daerah pusat kota di masa lalu yang sekarang lalu lintasnya padat, tidak teratur, dan macet.
Pengembangan sistem transportasi memang tak sekedar bicara tentang ruang gerak masyarakat. Tapi juga menyangkut sebuah tata ruang wilayah dan lingkungannya. Sayangnya, acapkali masalah lingkungan ini terabaikan karena faktor ekonomi. Pembangunan memang harus dilakukan dengan berkelanjutan, mempertahankan keserasian lingkungan tanpa mengabaikan atau mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka. Agak repot memang, sebab, pada titik inilah biasanya tarik menarik kepentingan justru terjadi. Negara bisa menjadi kurang berupa negara. Tak lagi fokus pada pengabdiaan dan kesetiaan terhadap rakyat.
Ya, Aristoteles memang tak hidup di Jakarta. Bahwa teori polis-nya bisa gugur di tangan dinamika pertumbuhan masyarakat kota ini. Kota tak lagi bisa merangkum dan menyatukan tiap pribadi. Sebab, ada satu dan lain hal yang menyebabkan kita jadi jauh dari kehendak bersama dengan satu fokus bersama pula, yaitu kesejahteraan ekonomi individu
***
AKHIRNYA, antrian kendaraan di lajur kami bisa berjalan. Kendaraan pribadi di depan kami pun bergerak, dengan meninggalkan makian di antara debu dan bunyi klakson sopir angkutan. Mobil yang dikendarai teman saya pun ikut merayap, melewati antrian sopir angkutan umum yang masih mengeluarkan sumpah serapahnya. Angkutan itu coba memotong jalur kami. Namun, teman saya sepertinya sudah mampu membaca gelagat. Ia pun menggerakkan mobil dengan gesit. Entah, angin apa yang membuat teman saya iseng menurunkan kaca jendela dan berkata, “Permisi ya, Bang. Anjingnya mo lewat duluan!”
Teman saya cengengesan, dinaikkannya lagi kaca jendela mobilnya. “I prefer being a dog,” lanjutnya di ujung tawa. Saya pun ikut tertawa karena ekspresi sopir angkot yang tampak tak terima, wajah-wajah penumpang yang menahan tawa, dan wajah teman saya yang menjadi lebih culun. Yeah, mungkin dengan menjadi anjing tidak akan ada sakit hati dan banyak pemakluman untuk kita. Apalagi untuk merasakan kenyamanan tinggal di kota ini. Artinya, kita harus mengeluarkan biaya yang lumayan tinggi untuk membeli kenyaman yang ditawarkan. Membelinya tak cukup hanya dengan bilangan nominal. Tetapi juga dengan menggadaikan kemanusian kita. Buktinya, teman saya bisa tertawa di antara macet, lengkingan klakson, dan caci maki! 

  Sebutlah dia : perempuan (saja)
by : d_sinner13

Langit masih gelap, kabut belum juga berlalu. Kokok ayam baru saja terdengar, setelah adzan subuh berkumandang. Bis yang saya tumpangi, perlahan memasuki Terminal Umbul Harjo. Di luar, dinginnya udara pagi terasa menusuk tulang. Setidaknya, untuk ukuran kota panas seperti Yogyakarta. Saya berdiri tercenung di peron terminal, mengamati satu-satu kendaraan umum yang lalu lalang. Sambil menanti seorang teman, yang tak kuasa lagi menahan rasa ingin buang air kecil.

Dari sebelah kanan, seorang perempuan berlari, memburu salah satu kendaraan umum yang siap berangkat. Dia tidak lagi muda. Kulit kencangnya telah kendur, berkerut, dan keriput. Sebagian parasnya, tertutup oleh lebar topi caping dari anyaman bambu. Rambutnya yang mulai memutih, disanggul kecil. Dia, memakai kebaya dan jarik bercorak batik. Tubuhnya kecil dan perutnya langsing, rata karena terlilit stagen. Di punggungnya, terpanggul barang bawaan. Bersama dia, nampak beberapa orang lagi yang berpenampilan serupa, sedang berebut naik kendaraan.
***
PEREMPUAN-perempuan itu, di Yogyakarta, saban pagi telah memenuhi jalanan. Saat mentari belum mengintip dari balik awan, mereka melengkapi hiruk pikuk pasar tradisional dan sudut keraton. Dengan kaki yang terbelenggu geraknya, oleh rapat jarik yang membalut, mereka mengayuh sepeda onthel. Menyusuri jalan yang tak selalu mulus, dengan muatan di boncengan belakang. Nampak terkesan limbung, namun tak jua jatuh. Sebab, perempuan-perempuan itu seperti piawai menjaga keseimbangannya. Ada lagi, yang menyanggah muatan itu di kepala dan sebagian ada yang digendong, di punggungnya. Seperti yang saya lihat di terminal. Mereka, mengangkatnya dengan tenaga yang terpendam di balik tubuh tua.

Bagi saya, perempuan-perempuan itu istimewa. Mereka kuat, kuat sekali. Meski dalam kesederhanaan yang mereka tampakkan. Meski sembunyi di balik tubuh kecil terbalut kebaya dan jarik batik, serta sanggul kecil yang menggelung rambutnya. Mereka, bukan mahluk lemah; yang hanya bisa menangis, berdiri menunggu selagi lelaki berangkat kerja dan menghabiskan uang saat lelaki nampak pulang. Mereka juga tabah dan terus berjuang untuk hidup mereka. Betapa budaya menunjukkan ketidakadilannya, pada mereka, perempuan-perempuan itu. Budaya yang hanya menunjuk lelaki sebagai mahluk perkasa.

Kawan lelaki SMA saya, pernah menulis puisi. Dia menggugat kenapa tak ada Hari Ayah dan mengapa hanya ada Hari Ibu ? Dalam puisinya, dia sebut perempuan itu tidak pernah berjuang maju ke garis depan ketika perang. Mereka hanya sibuk beranak pinak, merengek dan mengomel, mengganggu dan menuntut. Sementara kaum lelaki harus kerja keras dan banting tulang. Bagaimana ia bisa berpikir demikian ? Apakah karena dia lelaki ?

Pada Tuhan, saya menyesali keputusan mengawali peradaban manusia dengan menciptakan Adam, yang laki-laki. Bukannya Hawa, yang perempuan. Atau tidak langsung sepasang dan berbarengan. Saya sempat berpikir Tuhan diskriminatif terhadap perempuan. Dan hari ini saya tidak ingin menggugat Tuhan. Tak lagi mempertanyakan kenapa nabi semuanya laki-laki. Tak mau lagi berpikir mengapa orang Katolik dan Kristen memanggil Allah dengan ‘Bapa kami yang berada di surga’. Dan tak mau lagi mencari jawaban mengapa Tuhan mengamini lelaki menikah tiga kali. Hari ini, saya ingin menggugat budaya.

Saya mulai jemu. Dengan perih, dengan rapuh, dengan getir, saya berpikir tentang kaum perempuan. Hari ini, sebagian lelaki menjadikan emansipasi sebagai buah simalakama bagi perempuan. Tetapi, para perempuan bersanggul dan berkebaya, berjarik dan berselendang, yang bangun di dini hari dan tidur di larut malam, mereka tak dipusingkan soal emansipasi. Mereka tak meributkan masalah karier, tak menuntut persamaan hak, tak bicara soal kodrat apalagi derajat. Mereka hanya menjalankan fungsi mereka dengan baik. Mereka tak pernah menghadiri seminar-seminar kewanitaan, tak jua menyadari betapa budaya masyarakat tak adil bagi mereka. Bagaimana perempuan-perempuan kuat seperti mereka bisa dikatakan lemah ?

Mereka, perempuan-perempuan kuat. Lunak tapi kuat. Bayangkan, berapa banyak yang mereka pikul, tanggung, dan derita ? Mereka berkewajiban mengurus anak dan suaminya, masih harus mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Saat letih melanda jiwanya, mereka masih harus mengurus griya, tempat ia dan keluarga bersemayam. Mereka tertidur ketika yakin bahwa semuanya baik-baik saja, anak dan suami telah terpenuhi semua yang dibutuhkan. Cukup makan dan istirahat. Dan esok, harus terjaga sebelum semuanya bangun. Menyiapkan apa yang diperlukan oleh keluarga.

Mana keadilan untuk mereka ? Butakah budaya atas semua itu ? Kata siapa mereka hanya bisa beranak pinak, menadah, merengek, dan menangis ? Mereka, lebih dari sekedar kata kuat atau perkasa untuk menggambarkannya. Saya termangu, membayangkan sosok perempuan-perempuan lain yang berada di kantoran, memakai blazer, rok yang juga membalut kencang kedua pahanya, dan rambut yang dibiarkan terurai. Atau mungkin, perempuan yang lebih suka memakai celana jeans, kaos oblong, dan berambut cepak. Perempuan-perempuan dengan sosok yang berbeda. Tetapi, tetaplah perempuan yang berjuang di jalan mereka masing-masing.
***
SAYA tersentak. Sebuah tangan menepuk pundak dan buyarlah apa yang saya renungkan. “Ayo…sudah selesai,” ajak teman yang saya tunggu. Saya memandangi dia, teman saya. Seorang perempuan Yogya, berjilbab yang kini berdiri di samping saya seraya tersenyum puas. Tanda lega perasaannya setelah menuntaskan kebutuhan buang air kecilnya. Saya pun mengangguk, mengikuti langkahnya. “Dia juga perempuan sama seperti saya, seperti mereka…,” hati saya berbisik.

Berdua kami berjalan ke arah bis bernomor 55, jurusan Bantul. Saya langkahkan kaki hendak memasuki bis ketika sebuah suara dengan lirih berkata, “Nyun sewu nggih, nak.” Seorang perempuan tua, bersanggul, berkebaya, berjarik batik, berselendang, dengan gendongan di punggungnya meminta izin agar ia boleh lebih dulu masuk ke bis. Saya pun bergerak ke samping, minggir memberi jalan. Setelah ia masuk, saya pun mengikutinya masuk ke bis.

Di belakang, dua baris bangku setelah bangku supir, ada jarak yang lumayan lebar, sebelum kemudian disambung lagi dengan barisan bangku. Semua bangku telah terisi penumpang. Perempuan itu menurunkan gendongannya di situ dan meletakkan di bawah. Ia pun duduk di bawah, di sebelah gendongan, dan menyandarkan diri ke dinding bis. Disekanya peluh yang mengalir di kening dengan selendang. Kemudian ia mengipasi wajahnya dengan selendang itu juga. Dia tak sadar kalau sepasang mata saya mengawasinya tanpa berkedip. Saya takjub, terkesima. Harus disebut apa perempuan seperti dia. Saya tak menemukan satu kata yang tepat. Seharusnya, perempuan itu disebut…Entah, satu kata tak akan cukup! Atau…sebutlah dia : perempuan. Itu saja.

*) Dari sebuah catatan perjalanan ke yogya di bulan agustus 2001
 

  Human Being 12 Oktober 2002, bom itu meledak. Meninggalkan lubang menganga di Legian-Kuta, Bali. Ratusan tubuh robek, ratusan nyawa melayang. Luluh lantak hancur bersama debu, dan anyir bau darah.Sebuah mimpi buruk yang menyeruak di tengah hiruk pikuk malam milik Bali. Ada ribuan manusia di sana, dengan identitas warna paspor yang berbeda. Mereguk kenikmatan malam, sampai akhirnya mereka pun harus meregang nyawa di sini. Entah atas nama apa.

New York, 11 September 2001 silam. Dunia tercengang. Berapa harga untuk sebuah nilai kemanusiaan? 3000 orang tewas. Ketika terorisme menjadi momok untuk kehidupan kemanusiaan. Nyawa manusia tak ada lagi harganya. Persoalan ini tak bisa dipahami hanya dengan sebuah batas negara. Manakala kamu berkebangsaan A, B, dan C. Sebab, inilah tragedi kemanusian yang mengglobal. Bukan lagi persoalan berapa korban jiwa dan dari negara mana ia berasal. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang menghilangkan batas dan sekat.

Apa bahasa untuk kejadian ini? Ketika bom meledak di Bali ataupun dua bangunan World Trade Center yang menjulang hampir setengah kilometer itu dihantam dua kapal terbang, dan runtuh secara mengerikan? Maka yang paling brutal dari kedua kejadian ini (dan masih banyak kejadian lain) tak ada lagi nilai kemanusian. Yang hendak ditekankan hanya : pembantaian, perusakan, ekspresi kebencian, penyebaran ketakutan.

Ketika pembantaian oleh terorisme terjadi, bukan lagi sekedar rakyat (people) menderita. Atau para pejabat negara yang mengerutkan kening dan buru-buru merumuskan undang-undang anti terorisme. Persoalan yang paling mendasar, kerugian yang paling besar adalah degradasi kemanusiaan (human being) kita. Agenda terbesar adalah merumuskan kembali human being dalam sebuah universalitas.

Tragedi 911 dan Bali adalah sebuah sirene bagi kemanusiaan. Akan dibawa kemana pemahaman human being kita. Ketika sebuah kehidupan di dalam bumi yang sama, di bawah matahari yang sama, dengan kecemasan yang terus membayangi. Padahal, adalah hak setiap individu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tanpa memandang status kebangsaannya. Inilah teror yang sebenarnya, ketika manusia kehilangan kemanusian kita.

Kemana larinya harapan ketika manusia saling membenci? Yang harus dilakukan saat ini bukan saling mencaci, saling mencurigai, lalu menuding biangnya. Terorisme akan bersorak, bertepuk tangan. Sebab, kebencian inilah yang mencuci bersih kemanusiaan kita. Dan, artinya terorisme berhasil. Sama seperti iblis yang berhasil, manakala kita menyakini ia tidak ada. Ini bukan waktunya kita mengutuk gelap. Mari ambil lilin dan nyalakan. Lalu, kita eja kembali kemanusian kita, hari ini. 

  previous... previous has gone! damn...i thought, i have think twice before yell about it again. As a time goes by...yeah...we are running away from past. but, believe in me, we can stand very closely to the past jus b'coz we meet person from back time. juz stand close to it, not come back!

it looks like a machine time dat can throw u into previous journey. by facing old friends, friends who ur spent the time most, friends who u shared many mutual experiences, friends who wouldn't asking explainations when they saw ur 'blur' face, but surely...will be a good companion till u feel better. that was all what i felt on saturday.

spending my saturday with wandhi. and suddenly, it pulled out all about the previous time dat we ever faced together.blowing jerks to each other, crossing the street together, attending the media and environment festival in JCC, playing puzzle juz b'coz we wanted to have a bag from BP MIGAS, but end up, we decided to choose umbrella coz we were worried gonna be wet in d rain. huehehehe

i know, i can't back for previous.
i juz can dance with something dat we called "memories"
but whatever the price, i will pay for it

thanks for wonderful saturday. 

  trash talk or not? juz wanna to type down on my blog.

suddenly, i miz sumthing dat undescribable. dunno...a part of mine feel so blank. sumtimes, there is sumthing crash me without knocking d door. i hate dis feeling, when i realize it.

i juz read meidy's mail. she sent me an email and told me about her days in USA. Damn...i miz it. mizz to hang out with all my budds.

Here, now. i'm sticking in front of pc. looking at my new emails, trying to find the one dat i have to reply first, choosing what's topic dat i have tell them. i hate trash talk. so, we have to be more selective to point d topic.

ok...hold on...i have to reply my email...i will hurry back..

bubye for now! 

Wednesday, June 01, 2005
  yippeyy...

finally, i have my own blog. agak telat siey...hari gini baru punya blog?? gpp deh, gw khan penganut better late than never. jadi, apapun komentar dari suara-suara sirik yang udah duluan merajai dunia blogger, cuek is d best.

i'm lil bit happy juz b'coz a simple reason. HAVE MY BLOG.blog yang bernama tiga belas. hadiah dari wandhi. for 'my wandhi' yang udah memiliki 'cinta' seluas 'samudera', thank you banget. luv u deh dengan segala cela lu!

sempet ilfil ama blog tiga belas ini. pasalnya, password nya tiba-tiba didn't work and ngga mo login gethu...padahal, udah teriak yippeyyy saking riang. tapi, once again...untuk urusan begini...wandhi always be there...walaupun sejuta sumpah serapah disemburkannya di chat box gw...still a bunch of thank you, yha ndhi...dat's ehuff nyebut nama wandhi. ntar terharu biru dan tersanjung tujuh tuh bocah...huh!

udah ah...ntar nyambung lagi!